Operasi Kecil Menghilangkan Tahi Lalat di RS Premier Bintaro

Akhirnya… Setelah browsing sana sini, survey harga ke beberapa rumah sakit dan klinik kecantikan, sampe ‘kena tipu’ sebuah klinik kecantikan yang katanya bisa angkat tahi lalat saya (ada di postingan sebelumnya), sampai juga pada keputusan untuk tindakan angkat tahi lalat di RS Premier Bintaro.

Sebenernya niat mau angkat tahi lalat ini bukan semata-mata estetika, tapi justru pemicunya karena udah makin seringnya gatal dan ‘perasaan’ semakin membesar yang alhasil bikin parno dan mau diangkat.

IMG_4590
Tahi lalat yang mau dibuang

Sebelum akhirnya ke RS Premier, saya telepon ke RS Fatmawati Griya Husada dan tanya biaya menghilangkan tahi lalat dengan operasi. Dengan besar tahi lalat yang sekitar 0,4 cm, pihak rumah sakit bilang biayanya mulai dari 4,2 juta yang nilainya bisa berubah tergantung ukuran tahi lalatnya nanti. Itu untuk penanganan dengan dokter spesialis bedah plastik. Trus sebelum tindakan, sebelumnya saya juga udah nanya biaya operasi tahi lalat yang istilahnya eksisi atau insisi dengan dokter bedah plastik di RS Premier Bintaro, sekitar 4 jutaan juga.

Hasil browsing dan baca pengalaman orang lain pun harganya kurang lebih sama untuk pengangkatan dengan teknik operasi, yaitu sekitar 4 jutaan diluar obat. Misalnya di blog orang ini.

Karena estimasi biaya kurang lebih sama, akhirnya saya pilih ke RS Premier Bintaro yang paling deket rumah aja supaya mobilitas mudah. Dulu waktu tanya biaya di poli kulit RS Premier, seorang suster merekomendasikan Dr.Audy, tapi berhubung di hari kedatangan untuk tindakan cuma ada Dr.Gwendy, ya udah sama beliau aja, karena pas dateng ga bikin janji dulu sih alias walk-in. Sambil nunggu, sempet browsing nama beliau, meskipun ga banyak berkeliaran di dunia maya, tapi ada satu artikel yang menyertakan beliau di kegiatan kedokteran jadi saya pikir dokter ini cukup kekinian – lah..  Memang, ini agak-agak spontanitas karena lagi ada keperluan diluar rumah jadi sekalian aja deh – ngapain gitu.. Tadinya cuma mau konsultasi dulu dan pemeriksaan sama dokter bedah plastik, eh malah sekalian tindakan. Semoga bukan impulsif. Padahal jelas impulsif.. Duh! *suarahati*

*****

Hari H

Setelah masuk ruangan Dr.Gwendy, saya bilang mau pengangkatan tahi lalat dan konsultasi dulu sama dokternya. Saya cerita keluhannya bahwa akhir-akhir ini terasa gatal dan ‘perasaan’ membesar perlahan – harusnya saya juga bilang untuk alasan estetika – karena sepertinya dokter ini lebih concern untuk masalah kesehatan daripada penampilan. Kenapa penting disinggung, karena dulu waktu ke klinik kecantikan dan konsultasi ke dokter kulit, bisa jadi benang yang dipake lebih halus atau teknik sayatannya beda, atau gimana lah.. Jadi info “untuk alasan estetika atau kosmetik” dimaksudkan supaya dokternya ga semata-mata angkat tahi lalat tanpa memperhatikan hasil penampilan, apalagi di wajah. Saya juga cerita kekhawatiran saya tentang bekas luka yang akan jadi keloid nantinya, karena memang ada bakat. Dokternya bilang nanti bisa di suntik Kenakord sebelum keloidnya membesar. Tapi maksud hatiku menginformasikan ini juga supaya dokternya hati-hati membuat luka diwajah yang tidak seberapa ini..huhu

Ada edukasi umum dari dokternya kalau memang tahi lalat itu merupakan tumor, tinggal perkara tipe jinak atau ganas. Tahi lalat jinak tidak akan membesar atau menimbulkan sensasi apapun, no gatal, no berubah warna apalagi membesar. Dengan paparan sinar ultraviolet dan polusi, tahi lalat atau tumor yang tadinya jinak itu bisa jadi ganas dan menyebabkan gejala-gejala seperti gatal atau membesar.

Kalau dari kasat mata, dokter hanya bisa lihat adanya tahi lalat, untuk tahu ganas atau tidak perlu di tes lab. Harapan saya dokternya akan pakai alat tertentu untuk paling ga liat gejala di area yang terindikasi, misal pakai kaca pembesar atau apapun untuk liat lebih detail daripada sekedar mendekat dan liat kasat mata (pake kacamata sih). Jadinya saya ambil paket pemeriksaan lab untuk cek sampel. Dokternya pun bilang, kalau nanti ada indikasi ganas pengangkatannya akan lebih banyak atau dalam. Untuk potensi keloid, nanti setelah luka sembuh akan diberi suntikan anti keloid sebelum terbentuk keloidnya.

Berhubung tidak perlu persiapan diri dan bisa langsung tindakan, ya udah deh saya putuskan untuk dilakukan bedah di hari itu. Saya menunggu kurang lebih 15 menit untuk persiapan ruangan dan alat-alat tindakan.

Prosesnya sendiri mungkin 15-20 menit. Area tindakan dioles (yang baunya) seperti Betadine. Dokternya selalu menyampaikan proses prosedurnya,

“kita tutup ya wajahnya”, trus muka saya ditutup kain dengan lubang di area tindakan.

“Mulai anastesi ya”, mulailah di suntik anastesi di dua titik sekitar tahi lalat itu yang rasanya super sakiiitt…sampai tangan mengepal, mata berair dan menetes, padahal ga bermaksud menangis.. hiks

Setelah terasa kebas, dokter mulai lakukan prosedur dengan melakukan sayatan sampai penjahitan luka. Kata dokternya cukup dalam tahi lalatnya diambil. Terasa tindakan yang dilakukan, tapi ga sakit.

Begitu selesai, luka di tutup hansaplast transparan supaya agak indah ya di muka, bukan hansaplast yang coklat itu huhu.. Trus juga diresepkan obat antibiotik Cefat dan salep mata Cendo Fenicol untuk melapisi agar tidak kena air. Saya dikasih lihat spesimen-nya alias tahi lalat yang sudah diangkat dan dimasukkan ke tabung obat berisi cairan untuk dibawa ke bagian lab dan dicek kadar keganasannya. Mudah-mudahan aman.

IMG_6994
Pasca operasi tahi lalat lima jahitan

Sampai dirumah saya buka aja hansaplast-nya, karena menurut dokternya juga jangan sampai lembab dan berhubung dirumah ga kena debu atau polusi berlebihan jadi biarkan saja lukanya mengering dan ‘bernapas’ lega. Lukanya cukup panjang mungkin sekitar 1,5 cm dan lima jahitan. Agak kurang tajam ya hasil gambarnya.. *maafkanlah*

Baru inget kalau dua hari kemudian saya harus kerja keluar rumah, jadinya agak ribet untuk ngomong dengan hansaplast di bawah bibir. Sebenernya kata dokter boleh kok ga ditutup, tapi serem juga itu jahitan dimuka kalau diliat-liat, udah kayak boneka Chucky.. Jadi mungkin kalau yang mau operasi bisa cari-cari waktu yang tepat biar ga ribet.

*****

Proses Penyembuhan

Selama satu minggu saya hanya minum antibiotik dan lukanya dikasih salep sebelum dan sesudah mandi sesekali dalam sehari. Sehari semalam masih terasa agak sakit, nyeri gitu rasanya, ga bisa tertawa lepas atau sering ngomong karena stretching di kulit sekitar jahitan terasa banget bikin sakit dan suka berdarah.

Hari ke-dua sampai hari ke-tujuh, luka sudah mulai membaik, udah bisa senyum lebar tanpa sakit dan sudah tidak berdarah-darah lagi. Di hari ke-tujuh itulah saya balik ke RS Premier Bintaro untuk kontrol ke Dr.Gwendy, buka jahitan dan sekalian ambil hasil lab.

IMG_7073
Sudah lepas jahitan

Sebelum dibuka jahitannya, dokter baca hasilnya. Nyeri banget pas buka jahitan, tapi cepat mungkin hanya satu menit. Setelah selesai, dokter memberitahukan kalau hasil lab menyatakan hasilnya aman, tidak ada indikasi tumor ganas dan hanya tahi lalat biasa. Lega banget.

Jika ada indikasi tumor ganas, kata dokternya jahitan tidak akan langsung dibuka, tapi akan ada tindakan lanjutan seperti kemoterapi atau pembedahan lagi untuk mengangkat area yang terkena, tergantung jenisnya atau diagnosis hasil lab.

So, proses pengangkatan tahi lalatnya resmi sudah selesai. Salepnya boleh di pakai 1-2 hari lagi. Trus untuk keloid, belum terlihat potensi keluar dan bisa kontrol sebulan kemudian untuk lihat apakah ada keloid yang muncul. Mudah-mudahan ga ada, karena selama pengalaman suntik keloid, sakit banget itu suntikannya.. huhu.. *nangismulu*

****

Biaya

  1. Jasa konsultasi 2x  = Rp. 800.000
  2. Jasa tindakan bedah = Rp. 2.500.000
  3. Jasa tindakan buka jahitan = Rp. 250.000
  4. Ganti verban (yang cuma dipake untuk meletakkan benang jahitan -_-) = Rp. 31.000
  5. Biaya operasi = Rp. 580.897,58
  6. Biaya pemeriksaan laboratorium = Rp. 747.000
  7. Obat = Rp. 167.341
  8. Biaya administrasi pasien 2x = Rp. 110.000

TOTAL = Rp. 5.186.238,58

*****

Update 2 minggu pasca operasi

Setelah 2 minggu luka sudah tertutup sempurna dan tidak terasa nyeri atau sakit. Hanya saja, meninggalkan bekas yang tidak indah di wajah. Padahal angkat tahi lalat juga biar wajah jadi spotless, tapi kalau diganti sama bekas luka yang malah lebih banyak jadi sedih deh. Bekas jahitan terlihat dan disekitarnya warna kulit juga berbeda. Mungkin kalau (ada) pakai benang yang lebih halus, bekasnya tidak akan sejelas ini tapi lebih sempit atau halus.

Memang hasil suatu tindakan itu tentunya tergantung banyak hal dan mungkin tiap orang juga akan beda, bisa jadi orang lain tidak menghasilkan bekas luka yang jelas meskipun prosedur yang dilakukan sama. Saran saya lakukan bedah estetika ke yang memang ahlinya, tidak hanya sekedar ahli secara teknis, tapi juga punya concern tentang hasil yang indah.

*****

Update 5 bulan pasca operasi

Setelah 5 bulan, penampakannya lebih samar-samar meskipun masih kelihatan ada ‘tanda’ terutama berbentuk garis yang memutih sedangkan sekitarnya lebih berwarna. Kalau ditutup pakai foundation bisa terlihat mulus. So far udah ga ada sensasi atau terasa apapun dan kalau di garuk pun aman. Dan alhamdulillah-nya ga terbentuk keloid. Untuk perawatannya, saya masih olesin pakai Dermatix, kadang sesekali Kenacort yang salep. Juga pakai pelembab wajah yang mengandung vitamin C untuk mencerahkan warna kulit yang bekas luka. Syukurlah sekarang kulit area operasi sudah menyatu warnanya dengan kulit sekitar. Keputusan yang tepat untuk akhirnya melakukan operasi ini. Terimakasih Dokter!